Sabtu, 21 April 2012

Hening


Dear bloggers,
Sekian lama kembali saya tidak menulis di blog satu-satunya ini,dimana aku bisa menumpahkan segala unek-unek,kepenatan,kesedihan,kegalauan,bahkan kebahagiaan. Di blog ini aku bebas mengutarakan apa saja yang aku inginkan, apa yang aku alami, dan apa yang aku perbuat. Termasuk pada malam minggu, tanggal 21 April 2012, dimana tepat setahun skripsiku berulang tahun. Setahun yang lalu saya benar-benar ingin sekali bisa menyelesaikan skripsi dengan tepat waktu. Berbagai usaha dan pengharapan aku tempuh agar mimpiku bisa lulus dengan tepat waktu juga bisa terwujud. Namun di kesempatan kali ini, saya tidak akan membahas skripsi. Saya lebih membahas mengenai apa yang aku rasakan pada malam minggu ini. Entah kenapa malam ini aku begitu galau, sedih...ah sampai bingung untuk mendiskripsikan apa yang saya rasakan. Bloggers, mungkin kalian sudah baca tulisan-tulisanku sebelumnya. Setelah saya mengalami peristiwa itu, jujur, saya sedikit kurang percaya diri, saya lebih terkesan pendiam dan tertutup. Mungkin bagi orang-orang yang pernah mengenal saya, saya adalah orang yang tidak banyak bicara atau cenderung pendiam. Namun setelah peristiwa itu terjadi, saya justru terkesan lebih pendiam dan lebih tertutup.Hanya orang-orang tertentu saja yang tahu bagaimana kondisi yang saya alami, terutama sahabat saya dari Bandung dimana kami sudah bersahabat sejak kelas 1 SMP dan sudah sangat mengenal diri kami masing-masing. Semenjak peristiwa itu, saya juga lebih egois. Bagaimana mungkin saya tidak egois? Saya belum bisa mengurus diri saya sendiri dengan baik lalu bagaimana saya bisa mengurus keadaan orang lain. Saya sadar bahwa saya belum dewasa, sama sekali belum dewasa. Kelemahan mendasar saya yang utama adalah saya belum bisa memprioritaskan kebutuhan atau kepentingan yang seharusnya didahulukan.Sejujurnya saya sudah ikhlas dengan apa yang terjadi hampir setahun yang lalu itu. Namun,mungkin, ini menyisakan suatu trauma psikologis yang tidak bisa saya hindari atau musnahkan begitu saja. Seperti yang sudah saya paparkan sebelumnya, saya menjadi pribadi yang semakin tertutup. Entah kenapa setiap hari, terutama kalau pergi ke kampus atau hendak kuliah, saya cenderung ingin menghindar dari teman-teman. Mungkin karena saya malu dan tidak percaya diri. Bingung untuk menjawab apa apabila ditanya mengenai kelulusan atau sebagainya. Bukan saya memusuhi mereka, tidak sama sekali. Saya hanya ingin menutup diri saya sejenak dari mereka. Mungkin karena tidak ada sesuatu yang berarti atau berharga yang ingin saya bagikan pada mereka. Teman-teman pun sekarang menjadi berkurang. Selain mereka yang sudah pada lulus dan tidak seangkatan lagi dengan saya, saya pun hanya berteman dengan adik-adik angkatan yang pastinya tidak sedekat dengan teman-teman seangkatan. Saya lebih sering menyendiri,menyendiri,dan sepi. Kadang saya hanya bisa menangis untuk melampiaskan kesepian saya. Suara tangisanku lah yang mampu menemani kesepian saya di kala saya sedang sepi. Tapi, saya punya sesuatu, sesuatu yang `hidup`,yang pastinya berwujud manusia. Seseorang yang sangat sayangi selama saya kuliah yang juga seorang sahabat. Saya tidak perlu menyebutkan namanya. Yang jelas, sahabat saya yang satu ini adalah seseorang yang cukup saya kagumi, saya banggakan, dan terkadang menjadi inspirasi bagi saya untuk selalu semangat. Dua tahun terakhir selama saya kuliah dan menjadi rekan praktikum bersamanya, saya cenderung tidak akur dan sering terjadi kesalahpahaman diantara kami. Namun, setelah kami ditakdirkan tidak bersama lagi (tidak seangkatan lagi),justru kami menjadi akur dan saling mengerti dan perhatian satu sama lain. Suatu kondis yang sudah lama saya rindukan. Bahkan saya sampai terharu dan menangis kecil, seolah tak percaya dengan apa yang saya alami dengannya. Sebuah persahabatan yang sempat `flat’,kini menjadi `move on`.Namun, ada sesuatu yang aneh dalam diri saya. Sesuatu yang tidak mungkin semua orang mempunyai perasaan apa yang saya rasakan. Saya punya hati dengan sahabat saya sendiri. Rasa ini muncul sudah lama, beberapa bulan kemudian setelah kami berkenalan saat awal-awal kuliah. Entah kenapa saat saya dekat dengannya, saya merasa aman dan damai,seolah-olah dia selalu mau melindungi diri saya dari segala ancaman maupun bahaya. Bagai salah satu penggalan lirik ‘I wanna run to you’nya Whitney Houston, ‘Would you hold me in your arms, and keep me safe from harm’. Setiap kali saya berdua, berbincang, dan berbagi bersamanya adalah suatu moment yang sangat berharga dan menjadi kesempatan bagi saya untuk lebih dekat dengannya. Namun apabila saya berbincang dengannya, jelas saya tidak menampakan mimik wajah yang menandakan rasa ‘itu’ padanya. Kadang kalau saya lagi galau atau kesepian, saya sangat ingin sekali dia datang kepadaku,menanyakan kabarku, bahkan menemaniku. Namun apakah mungkin hal itu bisa terjadi? Terkadang dia masih belum terkesan menerimaku saat kami berkumpul dengan teman-teman.Hal tersebut terlihat dari bagaimana tingkah dan perlakuannya terhadapku. Saya terkesan dicuekin,tidak dipedulikan.Justru hal tersebut sangat menyakitkan bagi saya. Namun,apabila kami bersama,berdua dikosannya,saling berbagi, justru kami terlihat sangat akur dan akrab.Saya sampai bingung bagaimana dengan sifat pertemanan kami ini. Disisi lain, saya ingin lebih dari sekedar teman dengannya,namun dianya saja masih tidak peduli denganku. Namun bagaimanapun dengan sifatnya, kepribadiannya, saya masih menyayanginya dengan tulus. Saya selalu membantunya apabila dia membutuhkan sesuatu.Saya selalu siap mendengarkan apabila dia hendak bercerita denganku. Tidak sedikit hal yang terbaik sudah aku berikan untuknya.Ikhlas. Namun,saya hanya bisa bersabar dan bersabar.Terkadang di saat saya sedang galau,saya ingin sekali ada seseorang yang menghibur,siapapun itu. Namun,tidak banyak yang tahu. Saya hanya diam dan akhirnya menangis untuk melampiaskan semuanya. Saya jadi berpikir,apa mungkin saya memang orang yang tidak care atau peduli, sehingga orang lain pun tidak memperdulikan saya? Mungkin estimasi itu sangat benar. Namun sekali lagi, ditengah kondisi ini saya sedikit menghukum diri saya sendiri atas kekhilafan yang saya perbuat,yaitu dengan tidak memperdulikan orang lain dan lebih memperdulikan diri sendiri. Egois bukan? Bagaimana tidak?? Saya sendiri saja tidak peduli dengan diri sendiri,bagaimana saya bisa peduli dengan yang lain?

Selasa, 24 Januari 2012

Menanti Hikmah Tuhan (Bagian 2)

Dear bloggers,
Ketemu lagi bersama saya,setelah berbulan-bulan lamanya saya tidak menulis dan mencurahkan segala unek-unek yang ada di diri saya lewat blog ini. Awalnya memang disebabkan oleh rasa malas yang sering menghampiri untuk menulis dan lebih sering memendam unekk-unek itu atau menceritakannya ke seseorang,namun itu jarang sekali aku lakukan,karena pada dasarnya aku orangnya cenderung tertutup.Sebenarnya bukan berarti tertutup,melainkan saya tidak mau orang-orang terdekat saya mengetahui begitu banyak masalah yang saya hadapi apalagi terlibat secara langsung dalam masalah saya. Pada hari ini,saya berniat untuk menulis kembali dan melanjutkan sepenggal cerita bersambung saat saya membuka kembali situs blog saya ini dan ada rasa semangat lagi untuk menulis.
Sebenarnya,saya tidak mau berlarut-larut dalam kesedihan akibat ujian yang saya alami. Saya berusaha untuk tetap sabar dan tegar dalam menghadapi ini semua. Setelah peristiwa itu (baca : ketidaklulusan satu mata kuliah yang menunda kelulusanku) saya sempat menemui kedua dosen yang mengajarkan mata kuliah itu dan mereview jawaban keseluruhan ujian.Namun,nilai yang diberikan untuk ujian tersebut memanglah benar.Saya sudah berusaha untuk membujuk mereka untuk meluluskan saya atau setidaknya,saya diberi tugas apapun,entah itu dalam bentuk ujian perbaikan mandiri,membuat tugas makalah,bahkan penelitian sekalipun,asalkan saya bisa lulus untuk mata kuliah tersebut. Bayangkan saja,Alhamdulillah,Allah SWT telah meluluskan KKN dan tugas akhir atau skripsi saya dengan nilai saya impikan.Namun,karena hanya satu mata kuliah tersebut tidak lulus,kesempatan saya untuk bisa lulus dan wisuda bulan November tahun kemarin,dan meneruskan kuliah program profesi Apoteker sejak bulan September kemarin sirna sudah.Seolah-olah apa yang saya kerjakan dan perjuangkan ini sia-sia.Namun,saya juga tidak bisa memarahi Alloh,apalagi memaksa kehendakNya untuk bisa mewujudkan apa yang saya inginkan.Sejak peristiwa itu,saya hanya bisa beristighfar setiap selesai shalat,atau terkadang saat saya tiba-tiba mengingatnya kembali. Pernah satu hari mulai pagi hingga sore hari,saya hanya bisa terdiam,termenung,terkadang sambil menitikkan air mata,sekaligus berintrospeksi diri bagaimana hal itu bisa terjadi.Saya takut sekali bahwa apa yang saya alami ini merupakan sebuah peringatan kecil dari Alloh SWT karena (mungkin) tanpa saya sadari saya telah menyombongkan diri saya di depan teman-teman bahkan keluarga sendiri akibat kelulusan skripsi saya atau memang sebuah ujian yang membuat saya lebih sabar dan tegar,entahlah. Wallahu’alam.Hanya Alloh-lah yang tahu.
Seringkali saat saya pergi ke kampus atau sedang ada keperluan sesuatu,saya terkadang merasa malu atau minder saat berjumpa dengan teman-teman saya yang sudah lulus dan meneruskan kuliah profesinya.Entah kenapa di lubuk hati yang paling dalam,saya merasa kecewa dengan diri saya sendiri dan begitu payah.Saya benar-benar bingung bagaimana mencari alasan yang tepat dan menyampaikannya dengan benar dan tidak terlihat bodoh.Bagaimana mungkin,saya sudah selesai menyusun skripsi dan notabennya orang yang sudah selesai menyusun skripsi sudah dikatakan lulus dan siapa untuk diwisuda. Ada juga beberapa teman-teman yang mengatakan bahwa saya hendak lulus cumlaude.Saya hanya bisa mengamini saja,meskipun hal tersebut masih sangat jauh dari harapan dan sebenarnya bukan target utama saya dalam mencapai kelulusan yang sebenarnya.Namun ada juga beberapa teman-teman yang sudah mengerti peristiwa yang saya alami namun mereka sengaja menyembunyikannya dari saya dan mereka terkadang mengungkapkannya di belakang saya bersama yang lain.Ah,saya sih bodo amat,cuek saja,selama mereka masih menjaga nama baik saya,saya tidak masalah.
Beberapa hari kemudian,saya pun telah mengikhlaskan diri saya untuk bisa menerima apa yang telah Alloh berikan pada saya.Sepengetahuan saya,banyak yang mengatakan bahwa semakin banyak ujian yang Alloh berikan pada kita,artinya Alloh semakin sayang sama kita sebagai hambaNya,dan justru itulah ujian yang Alloh berikan pada kita merupakan suatu hal yang patut untuk disyukuri. Ujian tiadalah dalam bentuk musibah maupun bencana saja,namun juga berupa rezeki,baik rezeki harta, pangkat,maupun kedudukan.Ujian dapat membuat kita lebih dewasa lagi,lebih optimis dalam menatap masa depan,dan yang terpenting dengan ujian,kita tidak akan pernah lagi mengulang kembali kesalahan yang sama dan bisa menjadi umatNya yang lebih baik lagi.
Oleh karena itu,saya yakin bahwa Alloh tidak akan pernah menyia-nyiakan hambaNya.Alloh akan selalu sayang bahkan sangat sayang sekali sama kita selagi kita pun masih menyayangiNya dengan cara mengingatNya dan bertakwa kepadaNya.Saya pun yakin bahwa Alloh memiliki rencana yang jauh lebih indah dari rencana yang telah saya susun lewat peristiwa ini. Terima kasih,Alloh...  

Senin, 01 Agustus 2011

Menanti Hikmah Tuhan (Bagian 1)

Dear bloggers,
Sudah sekian lama sekali saya tidak menulis.Terakhir kali bulan April kalau saya tidak salah, waktu itu saya menyinggung mengenai kematian selebritis muda kita Adjie Massaid. Well, siang ini, dikesempatan awal Ramadhan 1432 H ini saya ingin menulis tentang apa yang aku alami belakangan ini. Oia, sebelumnya saya pribadi ingin menghaturkan selamat menunaikan Ibadah Shaum bagi bloggers yang menjalani ibadah shaum. Semoga amal dan ibadah kita di bulan suci ini senantiasa diterima oleh Allah SWT.Amin Ya Rabbal Alamin. Well,balik lagi ke fokus utama (ciyee berasa seperti news presenter aja nih,,), sesuatu yang saya alami itu sangat mengecewakan dan menyakitkan hati saya. Entahlah,mungkin sebagian dari kita sudah tahu kalau segala kesalahan yang kita lakukan, itu pasti karena kita sendiri,bukan ? am i right? we are co-creator, begitu kata beberapa motivator dunia terkenal.Jadi begini, sekitar tanggal 11 Juli 2011 yang lalu saya mendaftarkan diri untuk mengikuti ujian remedial semester genap di fakultasku. Tapi, berhubung ada satu mata kuliah yang saat itu belum keluar nilainya, aku tidak mendaftarkan diri. Dan saat itu aku yakin sih nilaiku lebih baik dari sebelumnya. Tapi jujur ya bloggers, aku dapat nilai E sebelumnya! Gila gak tuh? Aku dapet nilai E! Nilai mutunya 0! Bayangin, di fakultas lain selain fakultasku,seorang mahasiswa yang memperoleh nilai E itu kalau benar-benar tidak mengikuti kuliah sama sekali alias bolos! Nah, sedangkan di fakultasku,fakultas yang berbau dengan biomedis atau ilmu kesehatan, beberapa dosen yang memberikan nilai E tuh agak saklek, artinya apabila soalnya essay atau uraian, dosen gak segan-segan memberikan nilai E, meskipun kita mengikuti ujian, dan kita menulis jawaban di lembar jawaban. Meskipun jawabannya salah atau kurang tepat, dosen gak memberikan 'ongkos nulis' lah, begitu istilah saat aku SMA dulu. Nah,setelah aku mendaftar ujian remedial, dan nilai mata kuliah tersebut keluar, tau gak bloggers, aku dapat nilai apa? Aku dapet E lagi!!! Sialan! Ya ampun! Kok bisa? Bayangin nih bloggers, aku udah bertekad di ujian kedua setelah aku mendapatkan nilai E yang pertama, aku bakal belajar supaya aku tidak memperoleh nilai E lagi! Seapes-apesnya dapet D lah. Tapi ya nilai itu sebenarnya tidak aku inginkan. Waktu itu, aku sedang di Bandung, dan saat itu aku benar-benar memutar otak bagaimana caranya agar aku bisa mendaftar remedial satu mata kuliah itu. Gila aja, kalau aku benar-benar tidak bisa memperbaiki itu nilai, bisa-bisa aku mengulang sampai setahun kedepan. Yang bener aja bloggers? Aku mahasiswa semester 8, Alhamdulilah aku sudah ujian skripsi, dan aku sudah mendapatkan gelar yang aku impikan. Meskipun, IPK aku masih belum mumpuni, tapi setidaknya aku ingin lulus tahun ini, tepatnya bulan November nanti. 

Aku pun segera menghubungi teman dekatku di Yogyakarta, sebut saja P. P merupakan salah satu teman dekat bahkan sahabat yang cukup pengertian denganku. Oleh karena itu, aku cukup mempercayainya. Saat aku menghubungi dia, aku meminta tolong padanya, agar dia bisa segera menghubungi pihak akademika fakultas secepatnya untuk mendaftarkan namaku agar bisa mengikuti ujian remedial mata kuliah itu. Setidaknya, dia yang mengusahakan terlebih dahulu. Sorenya, dia memberi kabar kepadaku lewat pesan singkat atau SMS. Dia bilang kalau pihak akademika menyuruhku untuk segera menghadap ke salah satu staf akademika lainnya mengenai prosedur yang berlaku dan tidak bisa diwakilkan. Ya Allah, bagaimana coba? sedangkan aku baru kembali ke Yogyakarta seminggu kemudian dan masih lama. Maklum,saat itu Ayahandaku sedang tidak fit fisiknya karena ada masalah di ginjalnya. Sehingga aku memutuskan untuk lebih lama di Bandung bersama keluargaku. Lagipula, di rumahku tiada pembantu yang bisa meringankan pekerjaan ibuku di rumah. Entahlah, bagiku keluarga sangat berarti. 

Suatu hari di rumah, aku dengan sengaja memberitahu Ayahandaku tentang perkembangan akademikku selama kuliah. Aku memberikan transkrip nilaiku kepada Ayahku. Ayahku cukup terkejut melihat IPK terakhirku. Hal tersebut nampak melalui ekspresi wajahnya. Well, aku menyadari kalau selama ini aku kurang menghayati selama belajar semua mata kuliah yang berkenaan dengan bidang yang aku jalani sekarang. Jujur, aku benar-benar tidak tahu, mengapa aku bisa seperti ini. Mengapa IPK yang aku raih tidak semumpuni teman-temanku yang lain. Flash back sejenak, saat SMA dulu tepatnya kelas 2, aku ingin sekali masuk ke salah satu jurusan yang cukup banyak peminat untuk kategori ilmu biomedis, yaitu farmasi. Yah, aku sudah bertekad, saat aku lulus kelas 3 SMA nanti, aku bisa lulus ujian seleksi Mahasiswa Baru yang saat itu masih bernama SPMB dan bisa menjadi mahasiswa farmasi di perguruan tinggi ternama. So, that means,jurusan yang aku ambil adalah berdasarkan keinginanku sendiri, bukan paksaan dari siapapun. Orang tuaku saja merdeka akan hal tersebut dan tidak memaksakan aku. Kembali lagi, akhirnya ayahku pu tahu kalau saya masih mendapatkan nilai E di mata kuliah tersebut. Ayahku pun spontan bertanya, mengapa aku bisa memperoleh nilai itu? mengapa tidak segera diperbaiki? Akhirnya aku pun menceritakan yang sebenarnya kepada ayahku. Ayahku hanya bisa sedikit berkata-kata, karena memang wataknya yang bagiku sangat sabar dan memanjakan anak-anaknya. Kecuali, kalau anaknya sudah kelewatan, beliau tidak segan-segannya marah dan menunjukkan ekspresi yang tidak biasanya.Akhirnya,Ayahandaku pun menawarkan solusi agar saat aku kembali ke Yogyakarta nanti, segera menemui staf-staf di bagian akademik fakultasku dengan membawa oleh-oleh sebagai sarana 'peluluh hati' mereka kalau mereka tetap bersikeras. Aku pun menganggukkan kepala tanda setuju dengan ide Ayahandaku. Hmm..herannya dengan diriku sendiri,kenapa aku bisa bodoh, bisa salah strategi seperti ini. Kenapa aku kemarin tidak sempat menunda kepulanganku, atau setidaknya, aku bertemu dengan dosen yang mengajar mata kuliah tersebut dan menanyakan apakah nilaiku lebih baik dari sebelumnya atau tidak, untuk mengantisipasi hal terburuk. Aku pun tetap optimis. Bersambung...

Minggu, 13 Februari 2011

Kematian

Kematian. Adalah suatu kata yang mungkin bagi sebagian orang tidak ingin menghendakinya. Katakanlah ada yang belum siap menghadapi kematian, takut mengalami bagaimana rasanya mati, dan sebagainya.Seperti yang kita ketahui dan tidak terpungkiri bahwa kematian pastilah datang dan kita tidak dapat menghindari maupun mengelaknya, sekalipun kita bersembunyi di lorong gua yang gelap gulita bahkan di perut bumi sekalipun.
Hampir seminggu sudah, kepergian artis Indonesia dan juga anggota DPR Adjie Massaid meninggal dunia. Mengapa saya mengangkat nama dia dalam postingan ini? Ya,kepergian dia benar-benar sangat mengingatkanku akan kematian. Bagaimana tidak, di usianya yang masih relatif muda, dengan postur tubuh yang tegap dan sehat, serta kehidupan yang mapan bersama keluarga barunya. Siapa yang menyangka bahwa kematian begitu cepat menjemputnya. Adjie Massaid,menurut rekan sesama selebritis, anggota keluarga, dan juga rekan-rekannya di DPR, adalah seorang yang agamis,bertanggung jawab terhadap keluarga dan pekerjaannya, dan juga memiliki pribadi yang ramah dan low profile.Mereka semua merasa kehilangan sosok Adjie Massaid. Kematian yang menjemputnya saat dia sedang bermain bola di lapangan Lebak Bulus sungguh tidak terduga. Dia meninggal saat berada di dalam perjalanan menuju RS Fatmawati, Jakarta. Setelah tim dokter RS Fatmawati memeriksanya lebih lanjut, ia terkena penyakit jantung koroner. Sungguh kejadian yang tidak terduga dan tidak disangka oleh siapa pun, termasuk saya.
Kepergian Adjie Massaid, membuat saya mengingat kembali akan kematian. Di tengah rutinitas yang saya hadapi sehari-hari membuat saya lengah dan lupa bahwa ada "seorang" tamu yang akan datang menghampiri kita suatu waktu, entah itu setahun kemudian, sebulan kemudian, sehari kemudian, bahkan sedetik kemudian sekalipun. Kita tidak pernah mengetahui kapan kematian akan menjemput kita. Kematian adalah rahasia Illahi.Oleh karena itu, yang bisa kita lakukan untuk menghadapi kematian ini adalah berbuat dan beramal kebaikan, melakukan sesuatu yang sangat Allah SWT sukai dan ridhai, Dan satu hal yang perlu kita ingat, hidup di dunia ini hanyalah sementara. Kehidupan akhirat-lah yang paling abadi dan kita sebagai umat Allah, harus mempersiapkan amal dan perbuatan baik yang akan diperhitungkan seadil-adilnya oleh Allah SWT. 

Sabtu, 12 Februari 2011

Mimpi

Mimpi,sebuah perjalanan yang penuh misteri di bawah alam sadar kita.
Para dokter maupun pakar neurologi sekalipun belum mampu menemukan sebuah cara bagaimana mimpi bisa terjadi pada setiap orang di kala mereka sedang tidur.
Malam tadi aku benar-benar mengalami sebuah mimpi yang unik dan aneh.Kejadian yang terjadi di alam bawah sadarku waktu itu tidak ada hubungannya dengan peristiwa maupun pengalaman yang terjadi di hari itu juga maupun sebelumnya. Mimpi itu bercerita kala itu aku sedang berada di negeri Tirai Bambu,tepatnya di kota Shang Hai. Aku berkeliling kota bersama rombongan wisatawan yang kebetulan juga berasal dari Indonesia. Aku melihat menara yang konon dinobatkan sebagai salah satu menara tertinggi di dunia itu. Tapi sayang, di mimpi itu aku tidak naik hingga ke puncak menara.Tiba-tiba saja dalam mimpi itu aku berada di salah satu dari 7 keajaiban dunia, yaitu Great Wall. Aku menyusuri sepanjang Great Wall sambil melihat jurang yang ada di bawahnya. Yang aku lihat hanya padang rumput berwarna hijau.
Saat rombongan hendak kembali pulang ke Indonesia dan berkumpul di bandara,aku justru malah berkumpul bersama rombongan wisatawan yang hendak berwisata ke India.Meski rombongan wisatawan masih berasal dari Indonesia, tapi anehnya aku tidak menyadari bahwa rombongan yang aku ikuti bukan bertujuan pulang ke Indonesia, melainkan ke India. Alhasil, mimpi membawaku ke sebuah kota yang belum pernah aku kunjungi, yaitu Calcutta. Sebuah kota yang sama sekali tidak terpikirkan untuk berkunjung ke sana. Gambaran kotanya pun aku tidak memiliki bayangan. Sebuah mobil menyerupai Suzuki APV membawaku beserta rombongan menyusuri sebuah jalan tol. Jalan tol yang tergambar dalam mimpi itu mirip sekali dengan jalan tol Cikampek-Cipularang.Ramai di penuhi mobil-mobil, bus, dan truk. Di sepanjang jalan,hanyalah padang rumput yang terhampar. Namun saat mobil hendak melewati persis di bawah jembatan layang, tiba-tiba bangunan megah Taj Mahal pun muncul. Di mimpi itu aku terpana melihat kemegahan Taj Mahal, meskipun hanya dari mobil yang aku tumpangi. Kemudian beberapa gedung sudah mulai terlihat sesaat setelah melihat Taj Mahal.
Masih di Calcutta, mimpi pun kembali membawaku ke sebuah pemukiman padat yang tidak begitu bersih dan asri. Orang-orang berwajah khas India sering aku jumpai di sepanjang jalan. Kebanyakan mereka memakai gamis dan sorban. Ada yang jadi pedagang makanan, minuman, bahkan pengemis pun aku temui. Tiba-tiba aku menemui sebuah bazaar yang ramai dipenuhi oleh pengunjung. Di bazaar itu aku menemukan berbagai makanan khas India, pakaian dalam negeri maupun impor, dan uniknya lagi, kenapa di bazaar itu ada pameran pendidikan Indonesia. Apalagi yang aku temui adalah pameran pendidikan universitas yang saat ini sedang aku tempuh. Benar-benar mimpi yang aneh. Alhasil alam sadar pun membawa aku ke dunia nyata. Mimpi pun berakhir.Jam tepat menunjukkan pukul 04.30 subuh. Sesegera aku mencoba membukakan mata lebar-lebar dan menyegerakanku untuk mengambil air wudhlu untuk menunaikan shalat Subuh.