Dear bloggers,
Sekian lama kembali saya
tidak menulis di blog satu-satunya ini,dimana aku bisa menumpahkan
segala unek-unek,kepenatan,kesedihan,kegalauan,bahkan kebahagiaan. Di
blog ini aku bebas mengutarakan apa saja yang aku inginkan, apa yang
aku alami, dan apa yang aku perbuat. Termasuk pada malam minggu,
tanggal 21 April 2012, dimana tepat setahun skripsiku berulang tahun.
Setahun yang lalu saya benar-benar ingin sekali bisa menyelesaikan
skripsi dengan tepat waktu. Berbagai usaha dan pengharapan aku tempuh
agar mimpiku bisa lulus dengan tepat waktu juga bisa terwujud. Namun
di kesempatan kali ini, saya tidak akan membahas skripsi. Saya lebih
membahas mengenai apa yang aku rasakan pada malam minggu ini. Entah
kenapa malam ini aku begitu galau, sedih...ah sampai bingung untuk
mendiskripsikan apa yang saya rasakan. Bloggers, mungkin kalian sudah
baca tulisan-tulisanku sebelumnya. Setelah saya mengalami peristiwa
itu, jujur, saya sedikit kurang percaya diri, saya lebih terkesan
pendiam dan tertutup. Mungkin bagi orang-orang yang pernah mengenal
saya, saya adalah orang yang tidak banyak bicara atau cenderung
pendiam. Namun setelah peristiwa itu terjadi, saya justru terkesan
lebih pendiam dan lebih tertutup.Hanya orang-orang tertentu saja yang
tahu bagaimana kondisi yang saya alami, terutama sahabat saya dari
Bandung dimana kami sudah bersahabat sejak kelas 1 SMP dan sudah
sangat mengenal diri kami masing-masing. Semenjak peristiwa itu, saya
juga lebih egois. Bagaimana mungkin saya tidak egois? Saya belum bisa
mengurus diri saya sendiri dengan baik lalu bagaimana saya bisa
mengurus keadaan orang lain. Saya sadar bahwa saya belum dewasa, sama
sekali belum dewasa. Kelemahan mendasar saya yang utama adalah saya
belum bisa memprioritaskan kebutuhan atau kepentingan yang seharusnya
didahulukan.Sejujurnya saya sudah ikhlas dengan apa yang terjadi
hampir setahun yang lalu itu. Namun,mungkin, ini menyisakan suatu
trauma psikologis yang tidak bisa saya hindari atau musnahkan begitu
saja. Seperti yang sudah saya paparkan sebelumnya, saya menjadi
pribadi yang semakin tertutup. Entah kenapa setiap hari, terutama
kalau pergi ke kampus atau hendak kuliah, saya cenderung ingin
menghindar dari teman-teman. Mungkin karena saya malu dan tidak
percaya diri. Bingung untuk menjawab apa apabila ditanya mengenai
kelulusan atau sebagainya. Bukan saya memusuhi mereka, tidak sama
sekali. Saya hanya ingin menutup diri saya sejenak dari mereka.
Mungkin karena tidak ada sesuatu yang berarti atau berharga yang
ingin saya bagikan pada mereka. Teman-teman pun sekarang menjadi
berkurang. Selain mereka yang sudah pada lulus dan tidak seangkatan
lagi dengan saya, saya pun hanya berteman dengan adik-adik angkatan
yang pastinya tidak sedekat dengan teman-teman seangkatan. Saya lebih
sering menyendiri,menyendiri,dan sepi. Kadang saya hanya bisa
menangis untuk melampiaskan kesepian saya. Suara tangisanku lah yang
mampu menemani kesepian saya di kala saya sedang sepi. Tapi, saya
punya sesuatu, sesuatu yang `hidup`,yang pastinya berwujud manusia.
Seseorang yang sangat sayangi selama saya kuliah yang juga seorang
sahabat. Saya tidak perlu menyebutkan namanya. Yang jelas, sahabat
saya yang satu ini adalah seseorang yang cukup saya kagumi, saya
banggakan, dan terkadang menjadi inspirasi bagi saya untuk selalu
semangat. Dua tahun terakhir selama saya kuliah dan menjadi rekan
praktikum bersamanya, saya cenderung tidak akur dan sering terjadi
kesalahpahaman diantara kami. Namun, setelah kami ditakdirkan tidak
bersama lagi (tidak seangkatan lagi),justru kami menjadi akur dan
saling mengerti dan perhatian satu sama lain. Suatu kondis yang sudah
lama saya rindukan. Bahkan saya sampai terharu dan menangis kecil,
seolah tak percaya dengan apa yang saya alami dengannya. Sebuah
persahabatan yang sempat `flat’,kini menjadi `move on`.Namun, ada
sesuatu yang aneh dalam diri saya. Sesuatu yang tidak mungkin semua
orang mempunyai perasaan apa yang saya rasakan. Saya punya hati
dengan sahabat saya sendiri. Rasa ini muncul sudah lama, beberapa
bulan kemudian setelah kami berkenalan saat awal-awal kuliah. Entah
kenapa saat saya dekat dengannya, saya merasa aman dan
damai,seolah-olah dia selalu mau melindungi diri saya dari segala
ancaman maupun bahaya. Bagai salah satu penggalan lirik ‘I wanna
run to you’nya Whitney Houston, ‘Would you hold me in your arms,
and keep me safe from harm’. Setiap kali saya berdua, berbincang,
dan berbagi bersamanya adalah suatu moment yang sangat berharga dan
menjadi kesempatan bagi saya untuk lebih dekat dengannya. Namun
apabila saya berbincang dengannya, jelas saya tidak menampakan mimik
wajah yang menandakan rasa ‘itu’ padanya. Kadang kalau saya lagi
galau atau kesepian, saya sangat ingin sekali dia datang
kepadaku,menanyakan kabarku, bahkan menemaniku. Namun apakah mungkin
hal itu bisa terjadi? Terkadang dia masih belum terkesan menerimaku
saat kami berkumpul dengan teman-teman.Hal tersebut terlihat dari
bagaimana tingkah dan perlakuannya terhadapku. Saya terkesan
dicuekin,tidak dipedulikan.Justru hal tersebut sangat menyakitkan
bagi saya. Namun,apabila kami bersama,berdua dikosannya,saling
berbagi, justru kami terlihat sangat akur dan akrab.Saya sampai
bingung bagaimana dengan sifat pertemanan kami ini. Disisi lain, saya
ingin lebih dari sekedar teman dengannya,namun dianya saja masih
tidak peduli denganku. Namun bagaimanapun dengan sifatnya,
kepribadiannya, saya masih menyayanginya dengan tulus. Saya selalu
membantunya apabila dia membutuhkan sesuatu.Saya selalu siap
mendengarkan apabila dia hendak bercerita denganku. Tidak sedikit hal
yang terbaik sudah aku berikan untuknya.Ikhlas. Namun,saya hanya bisa
bersabar dan bersabar.Terkadang di saat saya sedang galau,saya ingin
sekali ada seseorang yang menghibur,siapapun itu. Namun,tidak banyak
yang tahu. Saya hanya diam dan akhirnya menangis untuk melampiaskan
semuanya. Saya jadi berpikir,apa mungkin saya memang orang yang tidak
care atau peduli, sehingga orang lain pun tidak memperdulikan
saya? Mungkin estimasi itu sangat benar. Namun sekali lagi, ditengah
kondisi ini saya sedikit menghukum diri saya sendiri atas kekhilafan
yang saya perbuat,yaitu dengan tidak memperdulikan orang lain dan
lebih memperdulikan diri sendiri. Egois bukan? Bagaimana tidak?? Saya
sendiri saja tidak peduli dengan diri sendiri,bagaimana saya bisa
peduli dengan yang lain?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar