Sabtu, 21 April 2012

Hening


Dear bloggers,
Sekian lama kembali saya tidak menulis di blog satu-satunya ini,dimana aku bisa menumpahkan segala unek-unek,kepenatan,kesedihan,kegalauan,bahkan kebahagiaan. Di blog ini aku bebas mengutarakan apa saja yang aku inginkan, apa yang aku alami, dan apa yang aku perbuat. Termasuk pada malam minggu, tanggal 21 April 2012, dimana tepat setahun skripsiku berulang tahun. Setahun yang lalu saya benar-benar ingin sekali bisa menyelesaikan skripsi dengan tepat waktu. Berbagai usaha dan pengharapan aku tempuh agar mimpiku bisa lulus dengan tepat waktu juga bisa terwujud. Namun di kesempatan kali ini, saya tidak akan membahas skripsi. Saya lebih membahas mengenai apa yang aku rasakan pada malam minggu ini. Entah kenapa malam ini aku begitu galau, sedih...ah sampai bingung untuk mendiskripsikan apa yang saya rasakan. Bloggers, mungkin kalian sudah baca tulisan-tulisanku sebelumnya. Setelah saya mengalami peristiwa itu, jujur, saya sedikit kurang percaya diri, saya lebih terkesan pendiam dan tertutup. Mungkin bagi orang-orang yang pernah mengenal saya, saya adalah orang yang tidak banyak bicara atau cenderung pendiam. Namun setelah peristiwa itu terjadi, saya justru terkesan lebih pendiam dan lebih tertutup.Hanya orang-orang tertentu saja yang tahu bagaimana kondisi yang saya alami, terutama sahabat saya dari Bandung dimana kami sudah bersahabat sejak kelas 1 SMP dan sudah sangat mengenal diri kami masing-masing. Semenjak peristiwa itu, saya juga lebih egois. Bagaimana mungkin saya tidak egois? Saya belum bisa mengurus diri saya sendiri dengan baik lalu bagaimana saya bisa mengurus keadaan orang lain. Saya sadar bahwa saya belum dewasa, sama sekali belum dewasa. Kelemahan mendasar saya yang utama adalah saya belum bisa memprioritaskan kebutuhan atau kepentingan yang seharusnya didahulukan.Sejujurnya saya sudah ikhlas dengan apa yang terjadi hampir setahun yang lalu itu. Namun,mungkin, ini menyisakan suatu trauma psikologis yang tidak bisa saya hindari atau musnahkan begitu saja. Seperti yang sudah saya paparkan sebelumnya, saya menjadi pribadi yang semakin tertutup. Entah kenapa setiap hari, terutama kalau pergi ke kampus atau hendak kuliah, saya cenderung ingin menghindar dari teman-teman. Mungkin karena saya malu dan tidak percaya diri. Bingung untuk menjawab apa apabila ditanya mengenai kelulusan atau sebagainya. Bukan saya memusuhi mereka, tidak sama sekali. Saya hanya ingin menutup diri saya sejenak dari mereka. Mungkin karena tidak ada sesuatu yang berarti atau berharga yang ingin saya bagikan pada mereka. Teman-teman pun sekarang menjadi berkurang. Selain mereka yang sudah pada lulus dan tidak seangkatan lagi dengan saya, saya pun hanya berteman dengan adik-adik angkatan yang pastinya tidak sedekat dengan teman-teman seangkatan. Saya lebih sering menyendiri,menyendiri,dan sepi. Kadang saya hanya bisa menangis untuk melampiaskan kesepian saya. Suara tangisanku lah yang mampu menemani kesepian saya di kala saya sedang sepi. Tapi, saya punya sesuatu, sesuatu yang `hidup`,yang pastinya berwujud manusia. Seseorang yang sangat sayangi selama saya kuliah yang juga seorang sahabat. Saya tidak perlu menyebutkan namanya. Yang jelas, sahabat saya yang satu ini adalah seseorang yang cukup saya kagumi, saya banggakan, dan terkadang menjadi inspirasi bagi saya untuk selalu semangat. Dua tahun terakhir selama saya kuliah dan menjadi rekan praktikum bersamanya, saya cenderung tidak akur dan sering terjadi kesalahpahaman diantara kami. Namun, setelah kami ditakdirkan tidak bersama lagi (tidak seangkatan lagi),justru kami menjadi akur dan saling mengerti dan perhatian satu sama lain. Suatu kondis yang sudah lama saya rindukan. Bahkan saya sampai terharu dan menangis kecil, seolah tak percaya dengan apa yang saya alami dengannya. Sebuah persahabatan yang sempat `flat’,kini menjadi `move on`.Namun, ada sesuatu yang aneh dalam diri saya. Sesuatu yang tidak mungkin semua orang mempunyai perasaan apa yang saya rasakan. Saya punya hati dengan sahabat saya sendiri. Rasa ini muncul sudah lama, beberapa bulan kemudian setelah kami berkenalan saat awal-awal kuliah. Entah kenapa saat saya dekat dengannya, saya merasa aman dan damai,seolah-olah dia selalu mau melindungi diri saya dari segala ancaman maupun bahaya. Bagai salah satu penggalan lirik ‘I wanna run to you’nya Whitney Houston, ‘Would you hold me in your arms, and keep me safe from harm’. Setiap kali saya berdua, berbincang, dan berbagi bersamanya adalah suatu moment yang sangat berharga dan menjadi kesempatan bagi saya untuk lebih dekat dengannya. Namun apabila saya berbincang dengannya, jelas saya tidak menampakan mimik wajah yang menandakan rasa ‘itu’ padanya. Kadang kalau saya lagi galau atau kesepian, saya sangat ingin sekali dia datang kepadaku,menanyakan kabarku, bahkan menemaniku. Namun apakah mungkin hal itu bisa terjadi? Terkadang dia masih belum terkesan menerimaku saat kami berkumpul dengan teman-teman.Hal tersebut terlihat dari bagaimana tingkah dan perlakuannya terhadapku. Saya terkesan dicuekin,tidak dipedulikan.Justru hal tersebut sangat menyakitkan bagi saya. Namun,apabila kami bersama,berdua dikosannya,saling berbagi, justru kami terlihat sangat akur dan akrab.Saya sampai bingung bagaimana dengan sifat pertemanan kami ini. Disisi lain, saya ingin lebih dari sekedar teman dengannya,namun dianya saja masih tidak peduli denganku. Namun bagaimanapun dengan sifatnya, kepribadiannya, saya masih menyayanginya dengan tulus. Saya selalu membantunya apabila dia membutuhkan sesuatu.Saya selalu siap mendengarkan apabila dia hendak bercerita denganku. Tidak sedikit hal yang terbaik sudah aku berikan untuknya.Ikhlas. Namun,saya hanya bisa bersabar dan bersabar.Terkadang di saat saya sedang galau,saya ingin sekali ada seseorang yang menghibur,siapapun itu. Namun,tidak banyak yang tahu. Saya hanya diam dan akhirnya menangis untuk melampiaskan semuanya. Saya jadi berpikir,apa mungkin saya memang orang yang tidak care atau peduli, sehingga orang lain pun tidak memperdulikan saya? Mungkin estimasi itu sangat benar. Namun sekali lagi, ditengah kondisi ini saya sedikit menghukum diri saya sendiri atas kekhilafan yang saya perbuat,yaitu dengan tidak memperdulikan orang lain dan lebih memperdulikan diri sendiri. Egois bukan? Bagaimana tidak?? Saya sendiri saja tidak peduli dengan diri sendiri,bagaimana saya bisa peduli dengan yang lain?

Selasa, 24 Januari 2012

Menanti Hikmah Tuhan (Bagian 2)

Dear bloggers,
Ketemu lagi bersama saya,setelah berbulan-bulan lamanya saya tidak menulis dan mencurahkan segala unek-unek yang ada di diri saya lewat blog ini. Awalnya memang disebabkan oleh rasa malas yang sering menghampiri untuk menulis dan lebih sering memendam unekk-unek itu atau menceritakannya ke seseorang,namun itu jarang sekali aku lakukan,karena pada dasarnya aku orangnya cenderung tertutup.Sebenarnya bukan berarti tertutup,melainkan saya tidak mau orang-orang terdekat saya mengetahui begitu banyak masalah yang saya hadapi apalagi terlibat secara langsung dalam masalah saya. Pada hari ini,saya berniat untuk menulis kembali dan melanjutkan sepenggal cerita bersambung saat saya membuka kembali situs blog saya ini dan ada rasa semangat lagi untuk menulis.
Sebenarnya,saya tidak mau berlarut-larut dalam kesedihan akibat ujian yang saya alami. Saya berusaha untuk tetap sabar dan tegar dalam menghadapi ini semua. Setelah peristiwa itu (baca : ketidaklulusan satu mata kuliah yang menunda kelulusanku) saya sempat menemui kedua dosen yang mengajarkan mata kuliah itu dan mereview jawaban keseluruhan ujian.Namun,nilai yang diberikan untuk ujian tersebut memanglah benar.Saya sudah berusaha untuk membujuk mereka untuk meluluskan saya atau setidaknya,saya diberi tugas apapun,entah itu dalam bentuk ujian perbaikan mandiri,membuat tugas makalah,bahkan penelitian sekalipun,asalkan saya bisa lulus untuk mata kuliah tersebut. Bayangkan saja,Alhamdulillah,Allah SWT telah meluluskan KKN dan tugas akhir atau skripsi saya dengan nilai saya impikan.Namun,karena hanya satu mata kuliah tersebut tidak lulus,kesempatan saya untuk bisa lulus dan wisuda bulan November tahun kemarin,dan meneruskan kuliah program profesi Apoteker sejak bulan September kemarin sirna sudah.Seolah-olah apa yang saya kerjakan dan perjuangkan ini sia-sia.Namun,saya juga tidak bisa memarahi Alloh,apalagi memaksa kehendakNya untuk bisa mewujudkan apa yang saya inginkan.Sejak peristiwa itu,saya hanya bisa beristighfar setiap selesai shalat,atau terkadang saat saya tiba-tiba mengingatnya kembali. Pernah satu hari mulai pagi hingga sore hari,saya hanya bisa terdiam,termenung,terkadang sambil menitikkan air mata,sekaligus berintrospeksi diri bagaimana hal itu bisa terjadi.Saya takut sekali bahwa apa yang saya alami ini merupakan sebuah peringatan kecil dari Alloh SWT karena (mungkin) tanpa saya sadari saya telah menyombongkan diri saya di depan teman-teman bahkan keluarga sendiri akibat kelulusan skripsi saya atau memang sebuah ujian yang membuat saya lebih sabar dan tegar,entahlah. Wallahu’alam.Hanya Alloh-lah yang tahu.
Seringkali saat saya pergi ke kampus atau sedang ada keperluan sesuatu,saya terkadang merasa malu atau minder saat berjumpa dengan teman-teman saya yang sudah lulus dan meneruskan kuliah profesinya.Entah kenapa di lubuk hati yang paling dalam,saya merasa kecewa dengan diri saya sendiri dan begitu payah.Saya benar-benar bingung bagaimana mencari alasan yang tepat dan menyampaikannya dengan benar dan tidak terlihat bodoh.Bagaimana mungkin,saya sudah selesai menyusun skripsi dan notabennya orang yang sudah selesai menyusun skripsi sudah dikatakan lulus dan siapa untuk diwisuda. Ada juga beberapa teman-teman yang mengatakan bahwa saya hendak lulus cumlaude.Saya hanya bisa mengamini saja,meskipun hal tersebut masih sangat jauh dari harapan dan sebenarnya bukan target utama saya dalam mencapai kelulusan yang sebenarnya.Namun ada juga beberapa teman-teman yang sudah mengerti peristiwa yang saya alami namun mereka sengaja menyembunyikannya dari saya dan mereka terkadang mengungkapkannya di belakang saya bersama yang lain.Ah,saya sih bodo amat,cuek saja,selama mereka masih menjaga nama baik saya,saya tidak masalah.
Beberapa hari kemudian,saya pun telah mengikhlaskan diri saya untuk bisa menerima apa yang telah Alloh berikan pada saya.Sepengetahuan saya,banyak yang mengatakan bahwa semakin banyak ujian yang Alloh berikan pada kita,artinya Alloh semakin sayang sama kita sebagai hambaNya,dan justru itulah ujian yang Alloh berikan pada kita merupakan suatu hal yang patut untuk disyukuri. Ujian tiadalah dalam bentuk musibah maupun bencana saja,namun juga berupa rezeki,baik rezeki harta, pangkat,maupun kedudukan.Ujian dapat membuat kita lebih dewasa lagi,lebih optimis dalam menatap masa depan,dan yang terpenting dengan ujian,kita tidak akan pernah lagi mengulang kembali kesalahan yang sama dan bisa menjadi umatNya yang lebih baik lagi.
Oleh karena itu,saya yakin bahwa Alloh tidak akan pernah menyia-nyiakan hambaNya.Alloh akan selalu sayang bahkan sangat sayang sekali sama kita selagi kita pun masih menyayangiNya dengan cara mengingatNya dan bertakwa kepadaNya.Saya pun yakin bahwa Alloh memiliki rencana yang jauh lebih indah dari rencana yang telah saya susun lewat peristiwa ini. Terima kasih,Alloh...