Sudah sekian lama sekali saya tidak menulis.Terakhir kali bulan April kalau saya tidak salah, waktu itu saya menyinggung mengenai kematian selebritis muda kita Adjie Massaid. Well, siang ini, dikesempatan awal Ramadhan 1432 H ini saya ingin menulis tentang apa yang aku alami belakangan ini. Oia, sebelumnya saya pribadi ingin menghaturkan selamat menunaikan Ibadah Shaum bagi bloggers yang menjalani ibadah shaum. Semoga amal dan ibadah kita di bulan suci ini senantiasa diterima oleh Allah SWT.Amin Ya Rabbal Alamin. Well,balik lagi ke fokus utama (ciyee berasa seperti news presenter aja nih,,), sesuatu yang saya alami itu sangat mengecewakan dan menyakitkan hati saya. Entahlah,mungkin sebagian dari kita sudah tahu kalau segala kesalahan yang kita lakukan, itu pasti karena kita sendiri,bukan ? am i right? we are co-creator, begitu kata beberapa motivator dunia terkenal.Jadi begini, sekitar tanggal 11 Juli 2011 yang lalu saya mendaftarkan diri untuk mengikuti ujian remedial semester genap di fakultasku. Tapi, berhubung ada satu mata kuliah yang saat itu belum keluar nilainya, aku tidak mendaftarkan diri. Dan saat itu aku yakin sih nilaiku lebih baik dari sebelumnya. Tapi jujur ya bloggers, aku dapat nilai E sebelumnya! Gila gak tuh? Aku dapet nilai E! Nilai mutunya 0! Bayangin, di fakultas lain selain fakultasku,seorang mahasiswa yang memperoleh nilai E itu kalau benar-benar tidak mengikuti kuliah sama sekali alias bolos! Nah, sedangkan di fakultasku,fakultas yang berbau dengan biomedis atau ilmu kesehatan, beberapa dosen yang memberikan nilai E tuh agak saklek, artinya apabila soalnya essay atau uraian, dosen gak segan-segan memberikan nilai E, meskipun kita mengikuti ujian, dan kita menulis jawaban di lembar jawaban. Meskipun jawabannya salah atau kurang tepat, dosen gak memberikan 'ongkos nulis' lah, begitu istilah saat aku SMA dulu. Nah,setelah aku mendaftar ujian remedial, dan nilai mata kuliah tersebut keluar, tau gak bloggers, aku dapat nilai apa? Aku dapet E lagi!!! Sialan! Ya ampun! Kok bisa? Bayangin nih bloggers, aku udah bertekad di ujian kedua setelah aku mendapatkan nilai E yang pertama, aku bakal belajar supaya aku tidak memperoleh nilai E lagi! Seapes-apesnya dapet D lah. Tapi ya nilai itu sebenarnya tidak aku inginkan. Waktu itu, aku sedang di Bandung, dan saat itu aku benar-benar memutar otak bagaimana caranya agar aku bisa mendaftar remedial satu mata kuliah itu. Gila aja, kalau aku benar-benar tidak bisa memperbaiki itu nilai, bisa-bisa aku mengulang sampai setahun kedepan. Yang bener aja bloggers? Aku mahasiswa semester 8, Alhamdulilah aku sudah ujian skripsi, dan aku sudah mendapatkan gelar yang aku impikan. Meskipun, IPK aku masih belum mumpuni, tapi setidaknya aku ingin lulus tahun ini, tepatnya bulan November nanti.
Aku pun segera menghubungi teman dekatku di Yogyakarta, sebut saja P. P merupakan salah satu teman dekat bahkan sahabat yang cukup pengertian denganku. Oleh karena itu, aku cukup mempercayainya. Saat aku menghubungi dia, aku meminta tolong padanya, agar dia bisa segera menghubungi pihak akademika fakultas secepatnya untuk mendaftarkan namaku agar bisa mengikuti ujian remedial mata kuliah itu. Setidaknya, dia yang mengusahakan terlebih dahulu. Sorenya, dia memberi kabar kepadaku lewat pesan singkat atau SMS. Dia bilang kalau pihak akademika menyuruhku untuk segera menghadap ke salah satu staf akademika lainnya mengenai prosedur yang berlaku dan tidak bisa diwakilkan. Ya Allah, bagaimana coba? sedangkan aku baru kembali ke Yogyakarta seminggu kemudian dan masih lama. Maklum,saat itu Ayahandaku sedang tidak fit fisiknya karena ada masalah di ginjalnya. Sehingga aku memutuskan untuk lebih lama di Bandung bersama keluargaku. Lagipula, di rumahku tiada pembantu yang bisa meringankan pekerjaan ibuku di rumah. Entahlah, bagiku keluarga sangat berarti.
Suatu hari di rumah, aku dengan sengaja memberitahu Ayahandaku tentang perkembangan akademikku selama kuliah. Aku memberikan transkrip nilaiku kepada Ayahku. Ayahku cukup terkejut melihat IPK terakhirku. Hal tersebut nampak melalui ekspresi wajahnya. Well, aku menyadari kalau selama ini aku kurang menghayati selama belajar semua mata kuliah yang berkenaan dengan bidang yang aku jalani sekarang. Jujur, aku benar-benar tidak tahu, mengapa aku bisa seperti ini. Mengapa IPK yang aku raih tidak semumpuni teman-temanku yang lain. Flash back sejenak, saat SMA dulu tepatnya kelas 2, aku ingin sekali masuk ke salah satu jurusan yang cukup banyak peminat untuk kategori ilmu biomedis, yaitu farmasi. Yah, aku sudah bertekad, saat aku lulus kelas 3 SMA nanti, aku bisa lulus ujian seleksi Mahasiswa Baru yang saat itu masih bernama SPMB dan bisa menjadi mahasiswa farmasi di perguruan tinggi ternama. So, that means,jurusan yang aku ambil adalah berdasarkan keinginanku sendiri, bukan paksaan dari siapapun. Orang tuaku saja merdeka akan hal tersebut dan tidak memaksakan aku. Kembali lagi, akhirnya ayahku pu tahu kalau saya masih mendapatkan nilai E di mata kuliah tersebut. Ayahku pun spontan bertanya, mengapa aku bisa memperoleh nilai itu? mengapa tidak segera diperbaiki? Akhirnya aku pun menceritakan yang sebenarnya kepada ayahku. Ayahku hanya bisa sedikit berkata-kata, karena memang wataknya yang bagiku sangat sabar dan memanjakan anak-anaknya. Kecuali, kalau anaknya sudah kelewatan, beliau tidak segan-segannya marah dan menunjukkan ekspresi yang tidak biasanya.Akhirnya,Ayahandaku pun menawarkan solusi agar saat aku kembali ke Yogyakarta nanti, segera menemui staf-staf di bagian akademik fakultasku dengan membawa oleh-oleh sebagai sarana 'peluluh hati' mereka kalau mereka tetap bersikeras. Aku pun menganggukkan kepala tanda setuju dengan ide Ayahandaku. Hmm..herannya dengan diriku sendiri,kenapa aku bisa bodoh, bisa salah strategi seperti ini. Kenapa aku kemarin tidak sempat menunda kepulanganku, atau setidaknya, aku bertemu dengan dosen yang mengajar mata kuliah tersebut dan menanyakan apakah nilaiku lebih baik dari sebelumnya atau tidak, untuk mengantisipasi hal terburuk. Aku pun tetap optimis. Bersambung...


