Senin, 01 Agustus 2011

Menanti Hikmah Tuhan (Bagian 1)

Dear bloggers,
Sudah sekian lama sekali saya tidak menulis.Terakhir kali bulan April kalau saya tidak salah, waktu itu saya menyinggung mengenai kematian selebritis muda kita Adjie Massaid. Well, siang ini, dikesempatan awal Ramadhan 1432 H ini saya ingin menulis tentang apa yang aku alami belakangan ini. Oia, sebelumnya saya pribadi ingin menghaturkan selamat menunaikan Ibadah Shaum bagi bloggers yang menjalani ibadah shaum. Semoga amal dan ibadah kita di bulan suci ini senantiasa diterima oleh Allah SWT.Amin Ya Rabbal Alamin. Well,balik lagi ke fokus utama (ciyee berasa seperti news presenter aja nih,,), sesuatu yang saya alami itu sangat mengecewakan dan menyakitkan hati saya. Entahlah,mungkin sebagian dari kita sudah tahu kalau segala kesalahan yang kita lakukan, itu pasti karena kita sendiri,bukan ? am i right? we are co-creator, begitu kata beberapa motivator dunia terkenal.Jadi begini, sekitar tanggal 11 Juli 2011 yang lalu saya mendaftarkan diri untuk mengikuti ujian remedial semester genap di fakultasku. Tapi, berhubung ada satu mata kuliah yang saat itu belum keluar nilainya, aku tidak mendaftarkan diri. Dan saat itu aku yakin sih nilaiku lebih baik dari sebelumnya. Tapi jujur ya bloggers, aku dapat nilai E sebelumnya! Gila gak tuh? Aku dapet nilai E! Nilai mutunya 0! Bayangin, di fakultas lain selain fakultasku,seorang mahasiswa yang memperoleh nilai E itu kalau benar-benar tidak mengikuti kuliah sama sekali alias bolos! Nah, sedangkan di fakultasku,fakultas yang berbau dengan biomedis atau ilmu kesehatan, beberapa dosen yang memberikan nilai E tuh agak saklek, artinya apabila soalnya essay atau uraian, dosen gak segan-segan memberikan nilai E, meskipun kita mengikuti ujian, dan kita menulis jawaban di lembar jawaban. Meskipun jawabannya salah atau kurang tepat, dosen gak memberikan 'ongkos nulis' lah, begitu istilah saat aku SMA dulu. Nah,setelah aku mendaftar ujian remedial, dan nilai mata kuliah tersebut keluar, tau gak bloggers, aku dapat nilai apa? Aku dapet E lagi!!! Sialan! Ya ampun! Kok bisa? Bayangin nih bloggers, aku udah bertekad di ujian kedua setelah aku mendapatkan nilai E yang pertama, aku bakal belajar supaya aku tidak memperoleh nilai E lagi! Seapes-apesnya dapet D lah. Tapi ya nilai itu sebenarnya tidak aku inginkan. Waktu itu, aku sedang di Bandung, dan saat itu aku benar-benar memutar otak bagaimana caranya agar aku bisa mendaftar remedial satu mata kuliah itu. Gila aja, kalau aku benar-benar tidak bisa memperbaiki itu nilai, bisa-bisa aku mengulang sampai setahun kedepan. Yang bener aja bloggers? Aku mahasiswa semester 8, Alhamdulilah aku sudah ujian skripsi, dan aku sudah mendapatkan gelar yang aku impikan. Meskipun, IPK aku masih belum mumpuni, tapi setidaknya aku ingin lulus tahun ini, tepatnya bulan November nanti. 

Aku pun segera menghubungi teman dekatku di Yogyakarta, sebut saja P. P merupakan salah satu teman dekat bahkan sahabat yang cukup pengertian denganku. Oleh karena itu, aku cukup mempercayainya. Saat aku menghubungi dia, aku meminta tolong padanya, agar dia bisa segera menghubungi pihak akademika fakultas secepatnya untuk mendaftarkan namaku agar bisa mengikuti ujian remedial mata kuliah itu. Setidaknya, dia yang mengusahakan terlebih dahulu. Sorenya, dia memberi kabar kepadaku lewat pesan singkat atau SMS. Dia bilang kalau pihak akademika menyuruhku untuk segera menghadap ke salah satu staf akademika lainnya mengenai prosedur yang berlaku dan tidak bisa diwakilkan. Ya Allah, bagaimana coba? sedangkan aku baru kembali ke Yogyakarta seminggu kemudian dan masih lama. Maklum,saat itu Ayahandaku sedang tidak fit fisiknya karena ada masalah di ginjalnya. Sehingga aku memutuskan untuk lebih lama di Bandung bersama keluargaku. Lagipula, di rumahku tiada pembantu yang bisa meringankan pekerjaan ibuku di rumah. Entahlah, bagiku keluarga sangat berarti. 

Suatu hari di rumah, aku dengan sengaja memberitahu Ayahandaku tentang perkembangan akademikku selama kuliah. Aku memberikan transkrip nilaiku kepada Ayahku. Ayahku cukup terkejut melihat IPK terakhirku. Hal tersebut nampak melalui ekspresi wajahnya. Well, aku menyadari kalau selama ini aku kurang menghayati selama belajar semua mata kuliah yang berkenaan dengan bidang yang aku jalani sekarang. Jujur, aku benar-benar tidak tahu, mengapa aku bisa seperti ini. Mengapa IPK yang aku raih tidak semumpuni teman-temanku yang lain. Flash back sejenak, saat SMA dulu tepatnya kelas 2, aku ingin sekali masuk ke salah satu jurusan yang cukup banyak peminat untuk kategori ilmu biomedis, yaitu farmasi. Yah, aku sudah bertekad, saat aku lulus kelas 3 SMA nanti, aku bisa lulus ujian seleksi Mahasiswa Baru yang saat itu masih bernama SPMB dan bisa menjadi mahasiswa farmasi di perguruan tinggi ternama. So, that means,jurusan yang aku ambil adalah berdasarkan keinginanku sendiri, bukan paksaan dari siapapun. Orang tuaku saja merdeka akan hal tersebut dan tidak memaksakan aku. Kembali lagi, akhirnya ayahku pu tahu kalau saya masih mendapatkan nilai E di mata kuliah tersebut. Ayahku pun spontan bertanya, mengapa aku bisa memperoleh nilai itu? mengapa tidak segera diperbaiki? Akhirnya aku pun menceritakan yang sebenarnya kepada ayahku. Ayahku hanya bisa sedikit berkata-kata, karena memang wataknya yang bagiku sangat sabar dan memanjakan anak-anaknya. Kecuali, kalau anaknya sudah kelewatan, beliau tidak segan-segannya marah dan menunjukkan ekspresi yang tidak biasanya.Akhirnya,Ayahandaku pun menawarkan solusi agar saat aku kembali ke Yogyakarta nanti, segera menemui staf-staf di bagian akademik fakultasku dengan membawa oleh-oleh sebagai sarana 'peluluh hati' mereka kalau mereka tetap bersikeras. Aku pun menganggukkan kepala tanda setuju dengan ide Ayahandaku. Hmm..herannya dengan diriku sendiri,kenapa aku bisa bodoh, bisa salah strategi seperti ini. Kenapa aku kemarin tidak sempat menunda kepulanganku, atau setidaknya, aku bertemu dengan dosen yang mengajar mata kuliah tersebut dan menanyakan apakah nilaiku lebih baik dari sebelumnya atau tidak, untuk mengantisipasi hal terburuk. Aku pun tetap optimis. Bersambung...

Minggu, 13 Februari 2011

Kematian

Kematian. Adalah suatu kata yang mungkin bagi sebagian orang tidak ingin menghendakinya. Katakanlah ada yang belum siap menghadapi kematian, takut mengalami bagaimana rasanya mati, dan sebagainya.Seperti yang kita ketahui dan tidak terpungkiri bahwa kematian pastilah datang dan kita tidak dapat menghindari maupun mengelaknya, sekalipun kita bersembunyi di lorong gua yang gelap gulita bahkan di perut bumi sekalipun.
Hampir seminggu sudah, kepergian artis Indonesia dan juga anggota DPR Adjie Massaid meninggal dunia. Mengapa saya mengangkat nama dia dalam postingan ini? Ya,kepergian dia benar-benar sangat mengingatkanku akan kematian. Bagaimana tidak, di usianya yang masih relatif muda, dengan postur tubuh yang tegap dan sehat, serta kehidupan yang mapan bersama keluarga barunya. Siapa yang menyangka bahwa kematian begitu cepat menjemputnya. Adjie Massaid,menurut rekan sesama selebritis, anggota keluarga, dan juga rekan-rekannya di DPR, adalah seorang yang agamis,bertanggung jawab terhadap keluarga dan pekerjaannya, dan juga memiliki pribadi yang ramah dan low profile.Mereka semua merasa kehilangan sosok Adjie Massaid. Kematian yang menjemputnya saat dia sedang bermain bola di lapangan Lebak Bulus sungguh tidak terduga. Dia meninggal saat berada di dalam perjalanan menuju RS Fatmawati, Jakarta. Setelah tim dokter RS Fatmawati memeriksanya lebih lanjut, ia terkena penyakit jantung koroner. Sungguh kejadian yang tidak terduga dan tidak disangka oleh siapa pun, termasuk saya.
Kepergian Adjie Massaid, membuat saya mengingat kembali akan kematian. Di tengah rutinitas yang saya hadapi sehari-hari membuat saya lengah dan lupa bahwa ada "seorang" tamu yang akan datang menghampiri kita suatu waktu, entah itu setahun kemudian, sebulan kemudian, sehari kemudian, bahkan sedetik kemudian sekalipun. Kita tidak pernah mengetahui kapan kematian akan menjemput kita. Kematian adalah rahasia Illahi.Oleh karena itu, yang bisa kita lakukan untuk menghadapi kematian ini adalah berbuat dan beramal kebaikan, melakukan sesuatu yang sangat Allah SWT sukai dan ridhai, Dan satu hal yang perlu kita ingat, hidup di dunia ini hanyalah sementara. Kehidupan akhirat-lah yang paling abadi dan kita sebagai umat Allah, harus mempersiapkan amal dan perbuatan baik yang akan diperhitungkan seadil-adilnya oleh Allah SWT. 

Sabtu, 12 Februari 2011

Mimpi

Mimpi,sebuah perjalanan yang penuh misteri di bawah alam sadar kita.
Para dokter maupun pakar neurologi sekalipun belum mampu menemukan sebuah cara bagaimana mimpi bisa terjadi pada setiap orang di kala mereka sedang tidur.
Malam tadi aku benar-benar mengalami sebuah mimpi yang unik dan aneh.Kejadian yang terjadi di alam bawah sadarku waktu itu tidak ada hubungannya dengan peristiwa maupun pengalaman yang terjadi di hari itu juga maupun sebelumnya. Mimpi itu bercerita kala itu aku sedang berada di negeri Tirai Bambu,tepatnya di kota Shang Hai. Aku berkeliling kota bersama rombongan wisatawan yang kebetulan juga berasal dari Indonesia. Aku melihat menara yang konon dinobatkan sebagai salah satu menara tertinggi di dunia itu. Tapi sayang, di mimpi itu aku tidak naik hingga ke puncak menara.Tiba-tiba saja dalam mimpi itu aku berada di salah satu dari 7 keajaiban dunia, yaitu Great Wall. Aku menyusuri sepanjang Great Wall sambil melihat jurang yang ada di bawahnya. Yang aku lihat hanya padang rumput berwarna hijau.
Saat rombongan hendak kembali pulang ke Indonesia dan berkumpul di bandara,aku justru malah berkumpul bersama rombongan wisatawan yang hendak berwisata ke India.Meski rombongan wisatawan masih berasal dari Indonesia, tapi anehnya aku tidak menyadari bahwa rombongan yang aku ikuti bukan bertujuan pulang ke Indonesia, melainkan ke India. Alhasil, mimpi membawaku ke sebuah kota yang belum pernah aku kunjungi, yaitu Calcutta. Sebuah kota yang sama sekali tidak terpikirkan untuk berkunjung ke sana. Gambaran kotanya pun aku tidak memiliki bayangan. Sebuah mobil menyerupai Suzuki APV membawaku beserta rombongan menyusuri sebuah jalan tol. Jalan tol yang tergambar dalam mimpi itu mirip sekali dengan jalan tol Cikampek-Cipularang.Ramai di penuhi mobil-mobil, bus, dan truk. Di sepanjang jalan,hanyalah padang rumput yang terhampar. Namun saat mobil hendak melewati persis di bawah jembatan layang, tiba-tiba bangunan megah Taj Mahal pun muncul. Di mimpi itu aku terpana melihat kemegahan Taj Mahal, meskipun hanya dari mobil yang aku tumpangi. Kemudian beberapa gedung sudah mulai terlihat sesaat setelah melihat Taj Mahal.
Masih di Calcutta, mimpi pun kembali membawaku ke sebuah pemukiman padat yang tidak begitu bersih dan asri. Orang-orang berwajah khas India sering aku jumpai di sepanjang jalan. Kebanyakan mereka memakai gamis dan sorban. Ada yang jadi pedagang makanan, minuman, bahkan pengemis pun aku temui. Tiba-tiba aku menemui sebuah bazaar yang ramai dipenuhi oleh pengunjung. Di bazaar itu aku menemukan berbagai makanan khas India, pakaian dalam negeri maupun impor, dan uniknya lagi, kenapa di bazaar itu ada pameran pendidikan Indonesia. Apalagi yang aku temui adalah pameran pendidikan universitas yang saat ini sedang aku tempuh. Benar-benar mimpi yang aneh. Alhasil alam sadar pun membawa aku ke dunia nyata. Mimpi pun berakhir.Jam tepat menunjukkan pukul 04.30 subuh. Sesegera aku mencoba membukakan mata lebar-lebar dan menyegerakanku untuk mengambil air wudhlu untuk menunaikan shalat Subuh.